“Tiga Sahabat Ingin Mengabdi Negeri”

Published by Dadang Hidayat Martawijaya on

CERITA AKHIR TAHUN 2016:
Berikut merupakan cerita mengenai anak negeri dengan latar belakang berbeda namun memiliki cita-cita yang sama meskipun cara mewujudkannya menempuh jalan yang berlainan.
Tersebutlah di sebuah SMA Sumatera Utara, ada tiga orang sahabat, masing-masing bernama Bambang Purnomo, Asep Dadang dan Ucok Sitompuliii. Ketiga sahabat ini merupakan siswa kelas tiga SMA yang juga aktivis Pramuka dengan IQ yang cukup tinggi dan semuanya merupakan siswa yang berprestasi di sekolahnya. Ketiga orang sahabat ini mempunyai cita-cita yang sama yaitu ingin mengabdi pada Negara dan Bangsanya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Singkat cerita, Alhamdulillah setelah ujian nasional (UN) ketiganya berhasil melanjutkan pendidikan masing-masing sesuai dengan yang dicita-citakan. Bambang Purnomo berhasil lulus menjadi Taruna AKABRI Darat, Asep Dadang berhasil lulus menjadi Taruna STPDN, dan Ucok Sitompul berhasil masuk di Universitas Negeri Medan Mahasiswa Departemen Pendidikan Teknik Mesin calon guru SMK Kompetensi Keahlian Pemesinan.
Setelah menempuh perkuliahan satu semester mereka memasuki masa liburan dan mereka bertemu melepas kangen sebagai sahabat. Dalam pertemuan diliburan itu ternyata mereka bukan bertemu bertiga, tapi berenam, karena Bambang Purnomo datang dengan gebetannya yaitu Eneng gadis Bandung, Asep Dadang datang juga dengan gebetannya yaitu Ayu gadis Yogya; sedangkan Ucok Sitompul datang dengan gebetannya yaitu Ani gadis Padang.
Tentu saja suasananya sangat menyenangkan karena sudah rindu untuk saling bercerita. Kemudian mereka bertiga bertukar cerita tentang berbagai hal terutama mengenai pendidikan dan perkuliahan mereka. Sementara itu ketiga gebetannya Eneng, Ayu dan Ani lebih banyak menyimak percakapan mereka.
Yang pertama bercerita dengan penuh semangat adalah Bambang Purnomo yang merupakan Taruna AKABRI Darat yang tampak gagah dengan seragam Sersan Tarunanya. Alhamdulilah saya sangat senang mengikuti kuliah sebagai Sersan Taruna AKABRI Darat dari berbagai perkuliahan makin mantap niat saya untuk mengabdi pada Negara. Sebagai bayangkara bayangkara bayangkara Negara saya siap untuk ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, NKRI buat saya harga mati. Lebih jauh dia berkata, kalau selesai pendidikan nanti saya dapat pangkat Letnan Dua (Letda), dan kalau saya berprestasi terus, saya bisa naik pangkat menjadi Letnan Satu, Kapten, Mayor dan saya ingin menjadi Jenderal. Tapi saya baru boleh menikah 4 tahun setelah lulus, demikian seterusnya Bambang Purnomo bercerita panjang lebar. Sementara itu Eneng gebetannya dari tadi menyimak dengan saksama sambil bergumam dalam hatinya ”yah Eneng mah sabar ngantosan” (yah Eneng sih sabar menunggu) Mas.
Kedua giliran yang bercerita adalah Asep Dadang, dia bercerita tak kalah semangat, dengan seragam Taruna STPDN nya diapun bercerita, Saya juga Alhamdulillah akhirnya bisa masuk jadi Taruna STPDN, saya sudah dapat kuliah tentang ilmu pemerintahan dan lain-lain. Saya makin semangat untuk membina masyarakat, mengabdi pada bangsa dan Negara. Kalau saya nanti lulus, saya akan diangkat menjadi Pegawai Negeri dengan golongan IIIa, dan ditempatkan di salah satu kecamatan di wilayah provinsi tempat saya mendaftar jadi taruna STPDN. Dimulai sebagai sekretaris lurah, kemudian jadi sekretaris camat, jadi camat, bahkan kalau saya berpretasi terus mungkin bisa jadi sekda atau bahkan bisa menjadi gubernur. Kalau soal nikah saya baru boleh nikah setelah 3 tahun lulus. Ayu gebetannya yang menyimak cerita Asep Dadang dengan penuh antusias, dan dalam hati Ayu bergumam  “Alhamdulillah, yo wis aku sabar menanti (Alhamdulillah, ya sudah aku sabar menanti) Kang”.
Giliran bercerita berikutnya adalah Ucok Sitompul, tidak kalah semangat, dengan pakaian baju kaosnya yang modis dan rambutnya sedikit gondrong dia tidak kalah semangat cerita tentang kuliahnya. Alhamdulillah saya sudah dapat kuliah Psikologi Pendidikan dan lain-lain, saya jadi tahu perkembangan anak, aku jadi tahu bagaimana mengembangkan potensi anak-anak, aku makin semangat untuk menjadi Guru Profesional, pokoknya aku makin semangat untuk mengabdi jadi pendidik dimanapun ditempatkan, terus cerita mau mengabdi, dan seterusnya, yah pokoknya saya siap mengabdi jadi pendidik ujarnya.Kalau soal nikah selagi mahasiswa juga boleh. Ani yang dari tadi menyimak ketiga orang bersahabat itu : bergumam dalam hatinya..”lho…koq cerita Uda ini lain sendiri, koq beda, dalam pikiran si Ani, koq tidak ada butir-butir cerita seperti di dua kawannya, ada yang tidak muncul pada cerita Ucok Sitompul gebetannya.
Singkat cerita, dari libur semester ke libur semester mereka bertemu, tapi pada libur semester keempat Ucok Sitompul datang dengan muka tidak cerah seperti biasanya dan dia datang cuma sendirian, rupanya baru saja Ani minta putus. Telusur punya telusur kenapa Ani minta putus, karena pada suatu waktu Ani berkunjung ke sebuah SMK di Medan dimana disana ketemu beberapa orang seniornya Ucok Sitompul, mereka ada yang baru setahun, dua, tiga, bahkan lima, enam tahun ternyata belum diangkat menjadi Pegawai Negeri, mereka masih status honorer dengan honor Rp. 300 ribu/bulan. Ani ternyata mendapat jawaban kenapa waktu libur semester satu cerita si Ucok Sitompul beda sendiri.
Cerita lain terjadi di acara arisan ibu-ibu:
1. Ibunya Bambang Purnomo, dengan wajah ceria penuh percaya diri menceritakan anaknya yang menjadi taruna AKABRI, dengan bangga dan penuh harap dia minta doa kepada teman-temannya mudah-mudahan anaknya kelak bisa menjadi jenderal.
2. Lain lagi cerita ibunya Asep Dadang, dia bagian terima arisan, bukan main makanan yang disediakannya karena menurutnya dia sekalian syukuran atas keberhasilan anaknya Asep Dadang menjadi taruna STPDN, rasa-rasannya anaknya besok sudah mau jadi Camat, sambil menawarkan makanan pada teman-temannya dia minta do’a mudah-mudahan anaknya bisa cepat lulus dan menjadi camat.
3. Giliran ibunya Ucok Sitompul yang datang agak terlambat ke arisan dengan raut wajah biasa aja. Namun begitu ada yang bertanya tentang anaknya si Ucok Sitompul dia menjawab dengan nada datar saja, Alhamdulillah mudah-mudahan cepat lulus, sambil susah mau cerita lebih banyak karena tahu bahwa kakak-kakak kelas si Ucok yang sudah lulus setahun, dua tahun, tiga bahkan lima, enam tahun masih menjadi guru honor dan entah kapan dia diangkat jadi guru PNS.
Lebih jauh, kalau Ani, Eneng dan Ayu cerita kepada ibunya masing-masing mengenai kondisi gebetannya (calon menantu), bisa dibayangkan bagaimana reaksi ibu mereka masing-masing. Cerita di atas, itu kalau lokasi ceritanya di Medan, sedangkan kalau di Bandung, yang masuk sekolah gurunya adalah Asep Dadang yang masuk di FPTK UPI,departemen Pendidikan Teknik Elektro, kalau di Surabaya, Bambang yang diterima di FT. UNESA Departemen Pendidikan Teknik Sipil, kalau di Yogya, Joko yang diterima di FT. UNY Departemen Pendidikan Teknik Otomotif dan kalau di Makasar, Andi yang diterima di FT. UNM Departemen Pendidikan Teknik Elektronika.
Apa maknanya…? Bahwa yang masuk sekolah guru itu bisa anak kita ,keponakan kita atau kerabat kita. Apakah kita rela atau ridho melihat anak, keponakan atau kerabat kita mendapat nasib seperti itu? Apakah tidak terasa sakit apabila melihat teman yang masuk AKABRI dan STPDN sudah dua kali naik pangkat sementara yang masuk sekolah guru masih sebagai guru honorer? Dan tidak jelas kapan ada pengangkatan. APA DOSA si Ucok, si Asep Dadang dan yang lain-lain yang masuk sekolah guru? APA DOSA mereka? padahal mereka bercita-cita sama yaitu ingin mengabdi pada negeri tercinta ini.
Apakah civitas penyelenggara pendidikan guru tidak merasa berdosa? atau merasa sedih? ataukah tidak peduli karena merasa tugas sudah selesai karena sudah mewisuda.
Pertanyaan lebih lanjut betulkah guru itu dibutuhkan? betulkah bahwa kalau mau menghancurkan suatu negara maka hancurkanlah pendidikannya? hancurkan gurunya?
Ditulis di Bandung, 31 Desember 2016.
Pemilik hak cipta “Model Pendidikan Guru TransNasional: Mengembangkan Kompetensi Calon Guru Profesional
Bidang Vokasi ( No: C00201504177. 24/11/15; No Pen: 077732)”.
Penggunaan nama tokoh semata-mata karangan penulis, sementara tokoh Ucok Sitompul terinspirasi dari Prof. Dr. Harun Sitompul, yang muncul pada saat FGD yang dilakukan di FT. Unimed dimana beliau hadir sebagai Dekan. Penulis mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan.
Maukah putra-putri atau cucu bapak-ibu diajari oleh guru yang tidak bagus? Saya melemparkan pertanyaan ini di mana-mana dan tidak ada satupun yang menjawab mau.
Alhamdulillah pada bulan September tahun 2016 telah lahir Inpres no. 9/2016 tentang Pendidikan Kejuruan dan Vokasi, hal ini menunjukkan perhatian dan kepedulian yang tinggi dari pemerintah akan pentingnya pendidikan kejuruan dan Vokasi di Indonesia, akan tetapi mungkinkah berhasil tanpa menyiapkan Calon Gurunya dengan baik…??
Tapi mengapa masih memperlakukan guru, calon guru bahkan pendidikan calon guru seperti itu? sampai kapankah hal seperti ini akan berlanjut ?
Timbul pertanyaan lagi, Apakah benar guru dibutuhkan di negeri ini? Seperti juga pendidikan AKABRI, STPDN dan lain-lain yang dipandang penting untuk Negara? Apakah benar guru itu Profesi? Apakah pernah disiapkan dengan sungguh-sungguh? Seperti halnya persiapan calon Taruna TNI,di AKABRI atau AKPOL? Seleksi di AKABRI, AKPOL, STPDN dan lainnya dilakukan secara khusus dan terarah, sementara untuk seleksi calon guru disamakan dengan calon sarjana hukum, calon sarjana teknik dan lain-lain sementara sebelumnya untuk seleksi masuk Perguruan Tinggi ada Perintis 1,2,3 dan Perintis 4 khusus untuk menyeleksi calon mahasiswa keguruan/LPTK.
Apabila ingin anak dan cucu kita dididik oleh guru yang bagus, berarti harus dimulai dari pemilihan bibit yang baik, didukung oleh program pendidikan, proses pendidikan, uji kompetensi, pengangkatan dan pembinaan guru harus memiliki standar tertentu. Sehingga
melahirkan calon-calon Guru Profesional yang unggul untuk menghasilkan GENERASI EMAS INDONESIA.
Selama ini pelepasan lulusan AKABRI, AKPOL atau STPDN dilakukan oleh Presiden sedikitnya Wakil Presiden, kapankah lulusan LPTK/LPTK-PTK dilepas oleh Presiden atau Wakil Presiden? Akankah hal ini terjadi? banyak yang merindukan.
Mengapa Pendidikan Guru tidak dipersiapkan khusus seperti pendidikan STPDN atau AKABRI sehingga ada Taruna AKABRI, Taruna STPDN, dan Taruna Calon Guru Profesional? Mungkinkah disuatu saat nanti? Semoga…semoga dan semoga.
Ini hanya sekedar cerita akhir tahun 2016…….jangan diambil hati. Wassalam.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *