Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Kejuruan (SMK) Di Indonesia

Published by Admin on

Oleh: Dr. Dadang Hidayat Martawijaya, M.Pd.

  1. Berpikir tentang pendidikan kejuruan (SMK) adalah berpikir tentang pendidikan yang spesifik, yang berbeda dengan SD, SMP, maupun SMA. Oleh karena itu harus dipikirkan, dibahas dan dikembangkan oleh ahli-ahli pendidikan kejuruan (jangan terjadi seperti kasus kurikulum 2013, dengan dipaksakannya metode saintific approach sebagai panglima dan muncul mata pelajaran prakarya di SMK).
  2. Sinergikan lembaga-lembaga/instansi yang mendukung pengembangan dan proses pendidikan di SMK sesuai dengan peran dan fungsinya dalam rangka menghasilkan proses pendidikan di SMK yang produktif yang berujung pada dihasilkannya lulusan SMK yang
    terstandar (sehingga tidak akan muncul alih fungsi guru dan atau tiba-tiba lulusan politeknik diangkat menjadi guru, sementara lulusan LPTK-PTK disiasiakan). Untuk lebih jelas lihat rekomendasi Rembuk Nasional 2016 sub topic bidang pembangunan manusia
    dan pendidikan vokasi butir f, gambar DHM (2016) serta tautan di berita upi.
  3. Pengembangan karakter pada pendidikan kejuruan (siswa SMK) akan terjadi secara otomatis dalam proses pembelajaran yang produktif apabila ditangani oleh guru-guru profesional yang disiapkan dengan baik, diharapkan dari lulusan LPTK-PTK  (berita upi) dimana pada dasarnya pendidikan kejuruan adalah pendidikan afektif (berita upi), karena kalau di SMK aspek afektif  khususnya pada pelajaran produktif tidak terkembangkan maka para siswa SMK tidak mungkin mencapai kompetensinya. Tidak ada keterampilan yang tidak didasari oleh kompetensi afektif sesuai keahlian pada mata pelajaran produktif. Seperti juga bimbingan konseling di SMK  berbeda dengan bimbingan konseling di SD, SMP dan SMA (berita upi).
  4. Metode, strategi, pendekatan dan model pembelajaran di SMK bisa sangat variatif dengan diyakini bahwa semua itu bagus sepanjang dipergunakan atau diaplikasikan pada bahasan, kontek dan proses yang sesuai, tidak bisa satu metode, pendekatan, strategi ataupun model dipaksakan pada bahasan atau kontek yang tidak sesuai. Saya menawarkan sebuah model pembelajaran yang memberi kemudahan siswa mencapai standar kompetensi dan mengembangkan jiwa kewirausahaannya yaitu model pembelajaran teaching factory 6 langkah atau disebut model TF-6M (lihat www.tf6m.com) yang saat ini sedang kami perluas impelementasinya di sejumlah SMK di Jawa Barat.
  5. Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru dan dosen adalah sebuah profesi, oleh karena itu profesi guru harus jelas konsep keilmuannya, program pendidikannya, serta standar-standar kompetensinya. Selain itu guru juga harus didukung oleh asosiasinya sehingga jelas penghargaannya, oleh karena itu:
  • Lakukan revitalisasi LPTK-PTK untuk menghasilkan calon-calon guru SMK yang professional;
  • Bagi mereka yang lulus memenuhi standar profesi guru dari LPTK-PTK ikutkan dalam program Program Pendidikan Guru (PPG), tempatkan dan bina sehingga sebagai guru professional akan melahirkan Proses Belajar Mengajar (PBM) yang produktif yang
    memungkinkan dhasilkannya lulusan SMK yang terstandar;
  • Hindari/hentikan pengangkatan guru yang tidak memenuhi empat kompetensi guru karena akan membuat masalah sampai 20-30 tahun kedepan dan akan berdampak pada proses pendidikan yang akan merugikan siswa dan masyarakat secara umum.
  • Perankan Asosiasi Dosen dan Guru Vokasi Indonesia (ADGVI) yang sudah berbadan hukum dari Kemenhumkam layaknya seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam mengembangkan dan membina dokter dan pendidikan kedokteran.
  • Lihat DHM (2016) pada rekomendasi Rembuk Nasional 2016;
  • Beri kepercayaan kepada guru produktif yang sudah memiliki sertifikat asessor untuk melakukan secara otomatis uji kompetensi siswa yang dinyatakan pada skill passport, yang merupakan pertanggungjawaban akademik dan professional seorang guru asesor professional yang akan diuji oleh masyarakat/masyarakat industri.

Disusun di Bandung, 24 Desember 2016

Ketua Asosiasi Guru dan Dosen Vokasi Indonesia (ADGVI) Wilayah Jawa Barat


1 Comment

universitas di bandung · December 2, 2018 at 2:42 am

tulisan yang bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *