Model TF-6M

Published by Admin on

Model Pembelajaran Teaching Factory dengan 6 langkah atau Model Pembelajaran Teaching Factory-6M dan selanjutnya disebut Model TF-6M.

Model Pembelajaran Teaching Factory 6 Langkah (Model TF-6M) ini dikembangkan dari Disertasi penulis yang berjudul: Pengembangan Model Pembelajaran Teaching Factory 6 Langkah (Model TF-6M) Untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa Dalam Mata Pelajaran Produktif Sekolah Menengah Kejuruan. Seminggu setelah promosi penulis diminta berbicara dalam sebuah Seminar Nasional dan penulis mempresentasikan makalah dengan judul: Implementasi Model Pembelajaran Teaching Factory Enam Langkah (Model TF-6M) Untuk Meningkatkan Kompetensi Produktif Siswa SMK Pariwisata (khususnya untuk Kompetensi Keahlian Tata Busana dan Tata Boga) 2010. Pada tahun 2011 dengan dana dari Direktorat Pembinaan SMK penulis melakukan Riset Pengembangan Pembelajaran Wirausaha Pendukung Industri Kreatif di SMK Tahun Ajaran 2011 dengan judul: Model pembelajaran Teaching Factory 6 Langkah (TF-6M) untuk Mengembangkan Industri Kreatif di SMK (Implementasi pada Kompetensi Keahlian: Teknik Pemesinan pada SMK Negeri 6 Bandung, Pastry dan Butik pada SMK Negeri 9 Bandung). Setelah itu dilakukan penelitian-penelitian baik yang bersifat menguji maupun menyempurnaan Model TF-6M, termasuk mencari pola implementasi yang efektif dalam mengimplementasikan Model TF-6M.

Pendidikan Kejuruan adalah pendidikan yang menyiapkan peserta didiknya untuk bekerja disamping dapat melanjutkan pendidikan. Upaya pemerintah memperbanyak jumlah SMK adalah dalam rangka menyiapkan angkatan kerja produktif agar jumlah penduduk Indonesia yang besar dapat menjadi Sumber Daya Manusia bukan hanya sekedar jumlah manusia. Penambahan jumlah SMK yang masif harus disertai dengan tenaga pendidik, kependidikan dan sarana fasilitas yang baik dan terstandar, disamping standar pendidikan yang lainnya. Pendidikan kejuruan memang mahal, oleh karena itu SMK harus dikelola dan dilaksanakan dengan tepat oleh orang-orang yang baik, kreatif dan bertanggungjawab. Dengan pelaksanaan pembelajaran yang tepat maka sarana fasilitas yang mahal dapat diimbangi dengan dihasilkannya banyak tenaga-tenaga kompeten yang terstandar. Guru-guru profesional harus didayagunakan secara tepat agar dapat mendayagunakan sarana fasilitas secara efisien dan efektif, sehingga “SMK Bisa” betul-betul dapat menghasilkan tenaga-tenaga kerja yang produktif.

Disamping SMK menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, dalam sebaran lulusannya diharapkan juga berjiwa entrepreneur agar bukan hanya dapat bekerja tetapi juga dapat menciptakan pekerjaan baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain. Hal di atas memang mudah dikatakan tetapi menuntut kesungguhan, karena jiwa entrepreneur tidak mudah dibentuk dengan sekedar diberi ilmu Kewirausahaan. Jiwa entrepreneur harus dibentuk dalam suatu proses yang terpadu dalam suatu proses pembelajaran sehingga terbangun jiwa komitmen, tanggungjawab dan etos kerja pada calon lulusan SMK.

Gambaran bagaimana model pembelajaran teaching factory yang dikembangkan dengan berfokus pada harapan 20% lulusan SMK berjiwa entrepreneur. Model teaching factory Model TF-6M teruji dapat membangkitkan terbangunnya jiwa komitmen, tanggung jawab dan etos kerja, oleh karena itu proses pembelajaran dengan mengaplikasikan Model TF-6M dapat diharapkan tercapainya kompetensi vokasional dan terbentuknya jiwa entrepreneur. Tentu saja model ini bukan resep yang bisa menyelesaikan segala masalah di semua kompetensi keahlian atau peminatan, oleh karenanya perlu dipenuhi persyaratan-persyaratan untuk terlaksananya Model TF-6M ini baik, dari sisi kebijakan, sarana fasilitas dan sumber daya manusia tenaga pendidik dan kependidikan. Oleh karena itu bagi mereka yang akan melaksanakan pembelajaran di SMKnya menggunakan Model TF-6M, pelajari betul.

Model TF-6M sudah memperoleh Hak Cipta dari Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia tertanggal 27 Juni 2014 dengan Nomor Hak Cipta C00201402688. Model TF-6M juga sudah mempunyai website resmi, dengan laman http://tf6m.com. Semoga model ini menjadi sarana untuk mengembangkan pendidikan kejuruan, khususnya di Indonesia.

Categories: TF6M

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *